Kupinang Engkau dengan Avanza
Pinang-meminang. Kata itu seperti hantu gentayangan saat saya masih menyandang status jomblo. Yup, siapapun yang sudah menikah pernah menyandang status membanggakan ini bukan? Walaupun pertama kali mendengar kata sakti itu ingatan saya langsung melayang pada acara Panjat Pinang saat hajatan 17 Agustus digelar. Kata-kata sakti yang juga terkadang bikin sakit gigi kalau tidak mau dikatakan sakit hati. Apalagi jika teman-teman seangkatan kita perlahan sirna dari peredaran karena sibuk berkeluarga. Sibuk urus anak, urus istri ataupun suami. Jadilah hati yang serupa gumpalan jelly ini terkoyak-koyak perih. *eeeeh Kupinang Engkau yang ‘Available’ Masih jelas kenangan saya dengan kata-kata ini. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 6 Pesantren Persis Bangil. Setara dengan kelas XII kalau sekarang. Teman sekamar saya, yang super pinter tetiba menunjukkan sebuah buku bersampul abu keunguan dengan judul “Kupinang Engkau dengan Hamdalah.” Eh, bisa ya? Begitu pikir s...