Menikmati Indahnya Lantunan Adzan di Bumi Pertiwi
Sebagian pembaca mungkin sedikit heran dengan penulisan ‘adzan’ yang tidak sesuai dengan KBBI terbaru, yaitu ‘azan’. Bukan kenapa-kenapa sebenarnya, tapi saya lebih suka untuk menulis ‘adzan’ ketimbang ‘azan’. Anggap saja ini adalah selingkung dalam penulisan di blog-blog yang saya kelola. Baru-baru ini ‘adzan’ menjadi tren penelusuran ( trending topic) di beberapa media konvensional baik cetak dan elektronik, juga pada media sosial. Tak kalah garang, media sosial yang memiliki ragam jurnalis mandiri—jika saya boleh katakan, karena semua orang bisa menulis dan memberitakan sesuatu tanpa harus peduli dan patuh pada kode etik jurnalisme. Hati kami tertaut dengan masjid. Ada banyak pertentangan, sekaligus rasa duka cita. Kenapa lantunan adzan yang sudah ratusan tahun ada di bumi pertiwi ini mulai diusik-usik sebagai ‘polusi suara’. Menurut saya, adzan yang hanya berkumandang tidak lebih dari 3 menit ini sangatlah indah. Bukan karena saya seorang Muslimah....