Lelaki Penakluk
Lelaki itu kembali menyembunyikan senyumnya. Ini sudah kali ke sekian dia disambut secara berlebihan di rumah seseorang yang baru saja dia kenal. Bahkan kali ini mungkin terlalu. Di hadapannya terhidang secangkir mint tea dengan brownies kukus yang lezat. Kemudian semangkuk buah-buahan segar yang ditata demikian unik. Ada juga kudapan lain yang tak kalah nikmat. Dia menyandarkan punggungnya. Siapa yang tidak terpikat dengannya? Gumamnya dalam hati. Dia nyaris sempurna. Itu dia katakan karena tidak ingin berpikir kalau dia adalah sosok sempurna. Ya, menurut teman dekatnya dia belum sempurna. Belum utuh. Ibaratnya sebuah belanga, dia masih tak bertutup. Seorang lelaki paruh baya duduk tidak jauh darinya. Beruban, berkacamata, dengan sorot mata berwibawa. Bajunya menunjukkan kalau dia bukan orang sembarangan. Batik tulis sutra handmade asli Pekalongan. Sudah agak lama lelaki tua itu memandangi dirinya lekat-lekat. Sesekali matanya berge...