Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Lelaki Penakluk

Gambar
Lelaki itu kembali menyembunyikan senyumnya. Ini sudah kali ke sekian dia disambut secara berlebihan di rumah seseorang yang baru saja dia kenal. Bahkan kali ini mungkin terlalu. Di hadapannya terhidang secangkir  mint tea  dengan  brownies  kukus yang lezat. Kemudian semangkuk buah-buahan segar yang ditata demikian unik. Ada juga kudapan lain yang tak kalah nikmat. Dia menyandarkan punggungnya.  Siapa yang tidak terpikat dengannya?  Gumamnya dalam hati. Dia nyaris sempurna. Itu dia katakan karena tidak ingin berpikir kalau dia adalah sosok sempurna. Ya, menurut teman dekatnya dia belum sempurna. Belum utuh.  Ibaratnya sebuah belanga, dia masih tak bertutup. Seorang lelaki paruh baya duduk tidak jauh darinya. Beruban, berkacamata, dengan sorot mata berwibawa. Bajunya menunjukkan kalau dia bukan orang sembarangan. Batik tulis sutra  handmade  asli Pekalongan. Sudah agak lama lelaki tua itu memandangi dirinya lekat-lekat. Sesekali matanya berge...

Istanbul Love Story

Gambar
Novel ini sudah terbit di Google Playbook, search saja dengan mengetik keyword Puspita RM  "Daha çok şükredersen, daha çok mutlu olursun. Daha çok sabredersen, daha çok şanslı olursun  (semakin kamu bersyukur, maka keuntungan akan menghampirimu)," Ulusoy Catagay memacu kapal ferinya di tepian Laut Marmara. Menyenandungkan pepatah kuno sembari menghibur diri.  Ia harus berpatroli di sekitar Selat Bosphorus, dan Laut Marmara dalam cuaca buruk. Jika tidak bisa menyemangati diri, bagaimana jadinya? Hawa dingin mulai menghempas buritan, mengantarkan aroma kematian.  Ya, kematian untuk mereka yang tidak siap menyambut musim dingin.  Catagay tersenyum penuh ironi. Lautan selalu berbau amis, bergelombang, dan tampak terlalu luas. Siang ini ia melihat beberapa kapal lalu lalang di Laut Marmara. Semua tampak normal terkendali. Tidak ada yang aneh. Kapal-kapal berlayar sesuai dengan jalur resminya, feri-feri kecil berlalu dengan kecepatan terkendali, beberapa turis yang t...